Daftar Indeks Saham Syariah Indonesia yang Tercatat di BEI (keuangansyariah.mysharing.co)
Daftar Indeks Saham Syariah Indonesia yang Tercatat di BEI (keuangansyariah.mysharing.co)

Daftar Indeks Saham Syariah Indonesia yang Tercatat di BEI

Indeks saham syariah Indonesia atau biasa disingkat dengan ISSI ini adalah indikator kinerja pasar dari saham syariah di Indonesia. Diluncurkan pada  12 Mei 2021 dan menjadi indeks komposit saham yang sudah tercatat dalam BEI.

Seluruh saham syariah tercatat yang masuk ke DES atau Daftar Efek Syariah akan otomatis dihitung dalam perhitungan ISSI.

3 Indeks Saham Syariah Indonesia

Saham jenis syariah yang mana masuk ke Daftar Efek Syariah tersebut dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dua kali dalam setahun. Investasi saham syariah mulai berkembang di Indonesia saat ini ditunjukan dengan sejumlah data yang dirilis oleh OJK.

Jumlah saham yang terus menerus bertambah, pada awalnya tahun 2013 jumlah saham syariah hanya ada 328. Lalu pada 2020 lalu sudah mencapai angka 467 saham.

Sehingga membuat indeks tersebut di Indonesia juga bertambah. Indek saham syariah merupakan indeks saham yang berisi saham-saham syariah dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Pada awal mulanya, indeks saham tersebut hanya Jakarta Islamic Index atau JII saja. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bursa menambah kembali 2 indeks saham yaitu Indeks Saham Syariah Indonesia atau ISSI juga Jakarta Islamic Index 70 atau JII 70.

Untuk anda yang ingin terjun ke dalam pasar saham syariah. Alangkah baiknya anda mempelajari perbedaan ketiga indeks tersebut.

1. Jakarta Islamic Index

Sebagai cikal bakal indeks syariah di Indonesia, indeks ini diluncurkan pada tahun 2000 yang berarti usianya saat ini sudah lebih dari 20 tahun di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data yang diperoleh dari OJK, kapitalisasi pasar JII pada tahun 2000 sebesar Rp 74 miliar. Dan pada tahun 2020 lalu, kapitalisasi sudah mencapai angka Rp 1,83 triliun dalam waktu 20 tahun.

Dalam situs BEI. konstituen JII hanya terdiri atas 30 saham syariah memiliki likuiditas di BEI. Ada beberapa syarat agar saham dapat masuk JII, dengan melakukan seleksi dengan kriteria likuiditas menurut BEI.

Saham tersebut yang masuk ke ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) sudah tercatat sejak 6 bulan terbaru. Setelah itu akan terpilih 60 saham, berdasarkan dari urutan rata-rata terhadap kapitalisasi pasar paling tinggi sejak 1 tahun belakangan.

Dari ke 60 saham terpilih, kemudian disaring dan dipilih kembali menjadi 30 jenis saham berdasarkan nilai rata-rata transaksi harian di pasar dengan regulasi tertinggi.

2. Indeks Saham Syariah

Berbeda dengan JII yang hanya berisi 30 saham saja, ISSI sendiri terdiri dari keseluruhan saham yang sudah tercatat di BEI dan sudah masuk dalam DES. ISSI sendiri diluncurkan setelah JII berusia 11 tahun, yaitu pada tahun 2011.

Seperti pada penjelasan di atas, bahwa DES akan ditinjau lagi oleh regulator sekitar 2 kali dalam waktu satu tahun. Sehingga semua komponen dalam ISSI harus dapat menyesuaikan dengan  perubahan DES yang dibuat oleh regulator.

Kapitalisasi pasar ISSI mencapai Rp 1,96 triliun ketika pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 lalu. Lalu, menurut data dari OJK, kapitalisasi ISSI sudah mencapai Rp 2,92 triliun pada September 2020 lalu.

3. Jakarta Islamic Index 70

Merupakan indeks saham syariah termuda yang ada di BEI. Diluncurkan pada Mei 2018 lalu itu merupakan saham syariah paling likuid.

Memiliki metode pemilihan saham yang masuk mirip dengan JII. Hanya saja perbedaannya pada jumlah saham yang diseleksi di awal.

Ada beberapa kriteria likuiditas pemilihan saham yang memenuhi untuk dapat masuk JII70. Kriteria tersebut yaitu merupakan saham yang masuk konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia dan sudah tercatat sejak 6 bulan belakangan. Ada 150 saham yang dipilih berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi selama waktu 1 tahun. Dari 150 saham tersebut kemudian kemudian akan dipilih 70 saham berdasarkan dari rata-rata nilai transaksi harian pasar dengan regulasi tertinggi.